23 October 2026

Get In Touch

Karhutla Gunung Arjuno: 34 Titik Panas Terdeteksi, Pemadaman Terkendala Angin Kencang

Apel bersama terkait pelaksanaan penanganan karhutla Gunung Arjuno, Kabupaten Malang, Rabu (21/10/2026). (foto: Pusdalops PB BPBD Kab. Malang)
Apel bersama terkait pelaksanaan penanganan karhutla Gunung Arjuno, Kabupaten Malang, Rabu (21/10/2026). (foto: Pusdalops PB BPBD Kab. Malang)

MALANG (Lentera) - Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Pegunungan Arjuno, wilayah Kabupaten Malang, masih berlangsung hingga Rabu (21/10/2026). Tim gabungan menghadapi kendala medan yang curam dan angin kencang, sehingga proses penanganan di 34 titik panas membutuhkan waktu lebih lama.

Berdasarkan laporan perkembangan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang, tercatat sebanyak 34 titik panas (hotspot) di kawasan Tahura Raden Soerjo. 

"Sebanyak 64 personel gabungan dari unsur Polisi Kehutanan (Polhut), Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api (MPA), relawan, dan Himpunan Penduduk Pemakai Air Minum (HIPPAM) dikerahkan untuk melakukan pemadaman darat dan pemantauan," ujar Kalaksa BPBD Kabupaten Malang, Purwoto.

Kebakaran dilaporkan terjadi di wilayah Gunungrejo dan Toyomarto, Kecamatan Singosari, serta Desa Donowarih, Kecamatan Karangploso. Hingga laporan tersebut diterbitkan, perkiraan luas lahan yang terbakar masih dalam proses pendataan oleh tim asesmen di lapangan.

"Salah satu kendala utama penanganan ialah kondisi lokasi kebakaran yang curam dan hanya dapat dijangkau dengan berjalan kaki. Selain memperlambat mobilisasi personel menuju titik api, angin kencang juga menjadi tantangan dalam pelaksanaan operasi pemadaman," jelasnya.

Dalam upaya menekan penyebaran api, Purwoto menyebut tim gabungan melakukan pemadaman secara manual, pembuatan sekat bakar atau ilaran, serta penanganan bara api yang masih ditemukan di area terdampak. Petugas juga melakukan pemotongan pohon tumbang yang berpotensi memicu perambatan api ke kawasan yang belum terbakar.

Selain itu, sebelumnya pada Selasa (20/10/2026), sebanyak 30 personel dari berbagai unsur membuat sekat bakar sepanjang hampir satu kilometer di kawasan atas Budugasu. Langkah ini dilakukan untuk menghambat pergerakan api agar tidak merambat turun ke kawasan hutan lindung.

Dalam operasi tersebut, tim juga berhasil memadamkan api di satu punggungan di atas Curah Striti. Sementara itu, pemadaman secara manual menggunakan ranting kayu dilakukan di wilayah Lawang dan Tawangargo.

"Petugas turut melanjutkan pemantauan terhadap perkembangan titik api serta melakukan penjagaan di jalur pendakian untuk menangani bara api yang masih ditemukan," kata Purwoto.

Untuk operasi lanjutan, menurutnya, tim dari Budugasu direncanakan bergerak ke bagian atas kawasan guna membuat ilaran untuk memperlambat penyebaran api. Sebanyak 12 personel Brimob disiagakan di Budugasu dan menunggu kondisi angin mereda sebelum menyusul tim pertama.

Sementara itu, tim dari Tawangargo akan melanjutkan pembuatan ilaran di jalur pendakian Tawangargo, tepatnya di kawasan Bukit Pusung Bunder, Desa Donowarih, Kecamatan Karangploso.

Penanganan karhutla juga didukung melalui 3 titik akses operasi, yakni pos pendakian via Lawang, jalur pendakian via Budugasu di Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari, serta akses melalui Desa Tawangargo, Kecamatan Karangploso. Dukungan logistik turut dikirimkan ke wilayah Tawangargo untuk menunjang operasi di lapangan. (*)


Reporter: Santi Wahyu
Editor: Lutfiyu Handi

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.