TRENGGALEK (Lentera) – Hujan ringan yang mengguyur sejumlah wilayah Kabupaten Trenggalek selama sekitar 3 hari terakhir, diharapkan membantu mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta dampak kekeringan.
Kondisi ini berlangsung di tengah pelaksanaan operasi modifikasi cuaca oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Trenggalek, Stefanus Triadi Atmono mengatakan upaya modifikasi cuaca menjadi salah satu langkah yang ditekankan, untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan di Jawa Timur.
Arahan tersebut disampaikan dalam pertemuan yang dihadiri Kepala BNPB, para kepala BPBD, serta bupati dan wali kota di Jawa Timur. Salah satu pembahasannya adalah penanganan karhutla dan kekeringan yang masih menjadi perhatian di sejumlah daerah.
“Untuk mengurangi terjadinya kebakaran hutan dan lahan, salah satunya dilaksanakan operasi modifikasi cuaca,” ujar Triadi, Senin (26/10/2026).
Menurutnya, hujan ringan yang turun di beberapa wilayah Trenggalek dalam beberapa hari terakhir, berpotensi membantu mengurangi dampak kekeringan sekaligus menekan risiko kebakaran lahan. Meski intensitas hujan belum tinggi, kondisi tersebut diharapkan memberikan manfaat bagi wilayah yang terdampak kekeringan.
Triadi menjelaskan, operasi modifikasi cuaca yang dilaksanakan BNPB ini dijadwalkan berlangsung hingga 29 Oktober 2026. Operasi tersebut mencakup wilayah mulai Malang hingga Situbondo.
Dalam pelaksanaannya, penyemaian awan dilakukan menggunakan natrium klorida (NaCl) atau garam dengan jumlah sekitar 1.000 kilogram setiap hari.
“Operasi modifikasi cuaca oleh BNPB berlangsung sampai 29 Oktober 2026, mulai dari Malang sampai Situbondo. Setiap hari menggunakan 1.000 kilogram NaCl,” jelasnya.
Upaya ini diharapkan dapat membantu meningkatkan potensi hujan di wilayah sasaran, sehingga mendukung penanganan kekeringan dan mengurangi ancaman kebakaran hutan maupun lahan.
Meski demikian, kondisi hujan ringan yang terjadi di Trenggalek belum serta-merta mengakhiri dampak kekeringan. Pemantauan terhadap perkembangan cuaca dan potensi karhutla tetap diperlukan, terutama di wilayah yang masih mengalami kekurangan air dan memiliki kerawanan kebakaran.
Reporter: Herlambang/Editor: Ais





.jpg)