26 October 2026

Get In Touch

Beda Generasi, Beda Cara Mengasuh Anak

Beda Generasi, Beda Cara Mengasuh Anak

SURABAYA ( LENTERA ) - Perbedaan cara mengasuh anak antargenerasi kerap memicu konflik keluarga. Psikolog mengingatkan, pengalaman kakek-nenek tetap bisa menjadi masukan, tetapi keputusan pengasuhan harus mengutamakan kebutuhan dan keselamatan anak.

Perbedaan pola asuh antara orang tua dan kakek-nenek menjadi tantangan bagi keluarga yang melibatkan beberapa generasi dalam merawat anak. Mulai dari aturan makan, kebiasaan sehari-hari, hingga cara mendisiplinkan anak, perbedaan pandangan bisa muncul ketika pengalaman masa lalu bertemu dengan rekomendasi pengasuhan yang lebih mutakhir.

Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim, mengingatkan bahwa tanggung jawab utama pengasuhan tetap berada pada orang tua. Kakek-nenek dapat berbagi pengalaman, tetapi penerapannya perlu disesuaikan dengan kebutuhan anak dan perkembangan pengetahuan.

“Yang bertanggung jawab pada anak, sekali lagi saya bilang adalah orang tuanya. Maka orang tua yang harus bikin aturannya, do and don't-nya,” kata Rose Mini.

Menurut dia, pola asuh tidak semestinya diterapkan hanya karena telah menjadi kebiasaan turun-temurun. Setiap anak memiliki kebutuhan yang berbeda, sehingga keputusan pengasuhan perlu mengacu pada informasi yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan.

Komunikasi Jadi Kunci 

Perbedaan pandangan bukan berarti orang tua harus mengabaikan pengalaman kakek-nenek. Sebaliknya, keluarga perlu membicarakan aturan pengasuhan secara terbuka agar setiap orang yang terlibat memahami batasan dan tanggung jawab masing-masing.

Rose Mini menyarankan orang tua menjelaskan alasan di balik keputusan mereka dengan tenang, terutama ketika tidak sependapat dengan orang tua atau mertua.

“Kalau kita tidak sepaham dengan kakek-nenek, berikan alasan yang jelas, sehingga hal itu mungkin bisa diterima oleh orang tua kita atau kakek-nenek,” ujarnya.

Pendekatan ini membantu menghindari konflik yang hanya berpusat pada siapa yang paling benar. Orang tua dapat menjelaskan bahwa aturan tertentu dibuat berdasarkan kondisi anak, saran tenaga ahli, atau pertimbangan keselamatan, bukan semata-mata untuk membatasi peran kakek-nenek.

Keluarga juga perlu menyepakati aturan yang berlaku secara konsisten, terutama jika anak diasuh bergantian oleh orang tua dan kakek-nenek. Kesepakatan tersebut mencakup kebiasaan makan, waktu tidur, pemberian makanan tambahan, penggunaan gawai, hingga cara merespons perilaku anak.

Libatkan Tenaga Ahli jika Perlu

Untuk persoalan yang berkaitan dengan kesehatan dan tumbuh kembang, Rose Mini menyarankan keluarga berkonsultasi bersama ke dokter anak. Dengan demikian, kakek-nenek dapat memperoleh penjelasan langsung mengenai kebutuhan anak, bukan hanya mengandalkan pengalaman pribadi atau informasi dari lingkungan sekitar.

Salah satu persoalan yang kerap memicu perbedaan adalah pemberian makanan kepada bayi dan anak. Anggota keluarga yang terlibat dalam pengasuhan perlu mengetahui jenis makanan yang sesuai dengan usia anak, cara pengolahan yang aman, serta pantangan yang berkaitan dengan alergi atau kondisi kesehatan tertentu.

Sebagai contoh, makanan yang dianggap biasa dikonsumsi anak pada generasi sebelumnya belum tentu sesuai dengan kebutuhan bayi saat ini. Karena itu, orang tua dan anggota keluarga yang membantu merawat anak perlu mengikuti rekomendasi kesehatan yang relevan.

Penting pula untuk membedakan pengalaman pengasuhan dengan bukti medis. Kebiasaan yang dahulu dianggap aman tidak otomatis tepat untuk semua anak, terlebih ketika berkaitan dengan risiko tersedak, infeksi, alergi, atau gangguan kesehatan lainnya.

Keselamatan Anak Utama

Persoalan perbedaan pola asuh kembali menjadi perhatian setelah muncul pemberitaan mengenai bayi di Surabaya yang dilaporkan meninggal dunia setelah diduga diberi telur mentah oleh anggota keluarganya. Peristiwa tersebut menyoroti pentingnya pemahaman tentang keamanan pangan dan komunikasi di antara anggota keluarga yang terlibat dalam pengasuhan.

Meski demikian, penyebab kematian dalam kasus tersebut tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan pemberitaan awal. Dugaan yang disampaikan dalam laporan perlu dibedakan dari hasil pemeriksaan medis atau kesimpulan resmi mengenai penyebab kematian.

Secara umum, pemberian makanan kepada bayi perlu mengikuti rekomendasi kesehatan sesuai usia dan kondisi anak. Telur mentah atau setengah matang berisiko membawa bakteri penyebab penyakit, termasuk Salmonella. Telur sebaiknya dimasak hingga matang untuk mengurangi risiko infeksi pangan.

Peristiwa tersebut juga menjadi pengingat bahwa aturan pengasuhan perlu disampaikan secara jelas kepada siapa pun yang merawat anak. Informasi mengenai makanan yang boleh diberikan, alergi, obat-obatan, dan tindakan yang harus dihindari sebaiknya diketahui seluruh pengasuh.

Keterlibatan kakek-nenek dapat menjadi dukungan penting bagi keluarga. Pengalaman, perhatian, dan kedekatan emosional mereka dapat membantu anak tumbuh dalam lingkungan yang penuh kasih sayang. Namun, dukungan itu perlu berjalan seiring dengan kesepakatan pengasuhan yang mengutamakan kebutuhan dan keselamatan anak.(far,ist/dya)

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.