
MYANMAR (Lenteratoday) - Badan amal internasional, Save the Children, mengaku kehilangan dua stafnya di Myanmar setelah serangan yang diduga dilakukan oleh militer. Setidaknya ada 30 mayat ditemukan pasca serangan tersebut.
Dalam sebuah pernyataan pada hari Sabtu, Save the Children mengutuk serangan yang dikatakan menewaskan sedikitnya 38 orang tersebut. Kepala eksekutif Save the Children, Inger Ashing, mengatakan dua anggota staf yang melakukan perjalanan pulang untuk liburan setelah pekerjaan kemanusiaan terjebak dalam insiden itu dan masih hilang.
"Kami mendapat konfirmasi bahwa kendaraan pribadi mereka diserang dan dibakar," katanya, dilansir dari bbc.com, Minggu (26/12/2021).
Dia juga mengaku ngeri atas kekerasan yang dilakukan terhadap warga sipil tak berdosa dan stafnya. Terlebih lagi staf tersebut mendedikasikan diri untuk kemanusiaan, mendukung jutaan anak yang membutuhkan di seluruh Myanmar.
Sementara itu, Pasukan Pertahanan Nasional Karenni, salah satu milisi terbesar yang menentang junta, mengatakan yang tewas bukanlah anggota milisi tetapi warga sipil yang mencari perlindungan dari konflik.
"Kami sangat terkejut melihat semua mayat dengan ukuran berbeda, termasuk anak-anak, wanita dan orang tua," kata seorang komandan dari kelompok itu kepada kantor berita Reuters.
AFP melansir bahwa seorang juru bicara militer Myanmar, Zaw Min Tun, mengatakan pertempuran telah pecah di Hpruso pada hari Jumat (24/12/2021) setelah pasukannya berusaha menghentikan tujuh mobil yang mengemudi dengan "cara yang mencurigakan".
Disebutkan bahwa Zaw Min Tun juga mengatakan bahwa pasukannya telah membunuh sejumlah orang dalam bentrokan berikutnya. Namun dia tidak memberikan rincian lebih lanjut atas kejadian tersebut. (*)
Sumber : BBC
Editor : Lutfiyu Handi