22 April 2025

Get In Touch

Gubernur Khofifah : Santri Miliki Complex Problem Solving yang Dibutuhkan Industri Masa Depan

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, saat menghadiri Haflah Ikhtitamiddurus dan Alfiyyah Ibni Malik di Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, Senin (7/3/2022).
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, saat menghadiri Haflah Ikhtitamiddurus dan Alfiyyah Ibni Malik di Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, Senin (7/3/2022).

KEDIRI (Lenteratoday) - Pola pendidikan pesantren dinilai mampu menjadikan lulusannya memiliki kemampuan complex problem solving yang dibutuhkan di era industri 4.0 dan industri masa depan. Tak hanya itu, complex problem solving itupun dilakukan dengan cara-cara yang kreatif.

"Dalam pendekatan industri masa depan, complex problem solving ternyata merupakan kebutuhan tertinggi. Mulai dari kompleksitas masalah, ekosistem yang tiba-tiba berubah, kepastian mencari jawaban, banyak sektor terdisrupsi, ternyata semua hal itu solusinya banyak ditemukan di pesantren," ujar Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, saat menghadiri Haflah Ikhtitamiddurus dan Alfiyyah Ibni Malik di Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, Senin (7/3/2022).

Lebih lanjut, Khofifah menyebutkan, Complex problem solving merupakan skill yang terkait dengan kemampuan memecahkan masalah asing dan belum diketahui solusinya dalam dunia nyata.

Dari sepuluh skill yang dibutuhkan dalam era industri masa depan, prosentase kebutuhan tertinggi adalah complex problem solving (36%), sementara social skill (19%), dan process skill (18%).

Menurut Khofifah, pendidikan di pondok pesantren mengajarkan seluruh santrinya mampu memecahkan permasalahan yang kompleks dengan cara-cara yang kreatif. Selain pendekatan science juga pendekatan religiusitas seperti istikharoh (mohon petunjuk agar ditunjukkan hal yang baik).

Setiap hari, santri mendapatkan kemampuan mengatasi masalah yang kompleks melalui berbagai bentuk kajian kitab kuning,kajian sosial kemasyarakatan, keagamaan, serta istiqomah ibadah yang dilakukan. Yang mana, hal tersebut melatih mereka menghadapi masalah dengan tenang, mengidentifikasi solusi dengan detail, dan berpegang teguh pada sisi referensi keagamaan.

"Di pesantren itu ada majelis di mana para kyai dan santri bermusyawarah serta bermunajat. Di sini juga setiap hari secara istiqomah mereka melakukan qiyamul lail, sholat tahajud juga istikharah dan dzikir di sebagian malam, pagi dan siang. Maka, kalau diurai betul, mereka bisa memiliki kemampuan skill complex problem solving ini dengan terus mengasahnya tiap hari," ujarnya.

Khofifah mengajak para santri mengamalkan apa yang mereka peroleh di pesantren untuk membina dan menjaga masyarakat, menjaga agama, dan menjaga negara. Sebab, di tengah krisis pandemi dan tantangan ekonomi, apa yang mereka miliki akan sangat bermanfaat bagi mereka yang membutuhkan kepastian dan ketenangan hidup.

"Memang betul bahwa kita butuh transformasi digital. Tapi bagaimana kita harus menyelaraskan dengan dakwah bil lisan, dakwah bil maal, dakwah bil haal, dan dakwah bil IT. Ini yang kemudian harus kita lakukan berseiring untuk masyarakat, agama, bangsa dan negara," jelasnya.

Di akhir, Khofifah kemudian berharap agar pendekatan complex problem solving di pondok pesantren bisa diintegrasikan ke permasalahan hidup masyarakat lainnya. Di mana, orang-orang dapat menyelesaikan masalah dengan metode serupa. Lebih luas lagi dalam mencari solusi berbagai kompleksitas masalah bangsa dan negara.

"Kami di Pemerintahan Provinsi Jatim berihtiar untuk menjalankan keberseiringan berbagai ihtiar profesional birokrasi modern dengan ikhtiar sosial keagamaan (Jatim Berkah) sesuai nawa bhakti Provinsi Jatim. Hasilnya, Alhamdulillah Jatim mengalami penurunan kemiskinan sebanyak 30% dari total penurunan kemiskinan nasional bahkan di masa pandemi 2021. Bahkan, Jatim juga merupakan provinsi dengan indeks kebahagiaan tertinggi di Jawa-Bali," tuturnya.

Turut hadir dalam acara tersebut Wakil Gubernur Jawa Tengah KH. Taj Yasin Maimoen, Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji, Bupati Trenggalek Mochamah Nur Arifin, serta Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah KH. Nurul Huda Djazuli. (*)

Reporter : Gatot Sunarko/rilis

Editor : Lutfiyu Handi

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.