06 January 2026

Get In Touch

Korban Tewas Akibat Operasi Militer AS di Venezuela Capai 80 Orang

Sebuah konvoi pengangkut kendaraan lapis baja melintasi kawasan Manhattan di tengah peningkatan langkah pengamanan menyusul penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, di New York City, Amerika Serikat, pada 3 Januari 2026. (foto:ist/Ant/Anadolu)
Sebuah konvoi pengangkut kendaraan lapis baja melintasi kawasan Manhattan di tengah peningkatan langkah pengamanan menyusul penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, di New York City, Amerika Serikat, pada 3 Januari 2026. (foto:ist/Ant/Anadolu)

WASHINGTON (Lentera) - Jumlah korban tewas akibat operasi militer Amerika Serikat (AS) di Venezuela, pada Sabtu (3/1/2026) meningkat menjadi 80 orang, demikian dilaporkan The New York Times, Minggu (4/1/2026).

Mengutip seorang pejabat senior Venezuela, media tersebut menyebutkan angka korban masih berpotensi bertambah seperti dirilis Antara, Senin (5/1/2026).

Sebelumnya, Menteri Pertahanan Venezuela, Vladimir Padrino menyatakan bahwa sebagian besar tim pengamanan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro tewas dalam operasi militer AS itu. Namun, ia tidak merinci jumlah pasti korban.

Presiden AS, Donald Trump mengatakan tindakan militer AS di Venezuela berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores.

Trump juga menyatakan, akan menegaskan kendali AS atas Venezuela untuk sementara waktu, termasuk dengan mengerahkan pasukan AS jika diperlukan.

Maduro dan istrinya tiba di New York, pada Sabtu (3/1/2026) malam dan kini ditahan di Metropolitan Detention Center, Brooklyn.

Keduanya menghadapi dakwaan federal di Amerika Serikat terkait perdagangan narkoba serta dugaan kerja sama dengan kelompok kriminal yang ditetapkan sebagai organisasi teroris.

Maduro membantah seluruh tuduhan tersebut. Sementara itu, sejumlah pejabat di ibu kota Venezuela, Caracas, menyerukan pembebasan pasangan tersebut.

 

 

Editor: Arief Sukaputra

 

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.