22 May 2026

Get In Touch

Arsip Perjalanan Seni Sang Maestro Ludruk Cak Kartolo, Jadi Memori Kolektif Bangsa

Cak Kartolo menerima penghargaan dari Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).
Cak Kartolo menerima penghargaan dari Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).

SURABAYA (Lentera) - Pengabdian panjang maestro ludruk Jawa Timur, Cak Kartolo, mendapat pengakuan nasional. Arsip perjalanan seni yang merekam kiprahnya selama puluhan tahun resmi ditetapkan sebagai Memori Kolektif Bangsa (MKB) oleh Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).

Penghargaan tersebut diberikan dalam ajang Anugerah Kearsipan Tahun 2026 yang digelar bertepatan dengan peringatan Hari Kearsipan Nasional ke-55 di Gedung C ANRI, Jakarta, Rabu (20/5/2026).

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Surabaya, Yusuf Masruh, menyebut penghargaan ini menjadi bentuk penghormatan negara terhadap dedikasi Cak Kartolo dalam menjaga eksistensi ludruk di tengah perubahan zaman.

"Alhamdulillah kemarin dapat tiga penghargaan, salah satunya terkait simpul jaringan dan pengawasan kearsipan terbaik nasional. Cak Kartolo juga mendapat penghargaan Memori Kolektif Bangsa," kata Yusuf, Jumat (22/5/2026).

Diketahui, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya juga memborong 3 penghargaan nasional sekaligus. Selain penghargaan Registrasi Memori Kolektif Bangsa untuk arsip "Kiprah Kartolo: Maestro Seni Tradisi Kesenian Ludruk 1950-2025". Surabaya juga meraih penghargaan Pengawasan Kearsipan Terbaik Nasional kategori Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dan Simpul Jaringan Terbaik Nasional Tahun 2026.

Menurut Yusuf, sosok Cak Kartolo dinilai berhasil menjaga kesenian ludruk tetap hidup lintas generasi. Bahkan hingga kini, gaya pertunjukannya masih mampu diterima kalangan muda.

Usai menerima penghargaan, Cak Kartolo turut tampil membawakan jula-juli di hadapan peserta Rapat Koordinasi Nasional Kearsipan. Penampilannya mendapat sambutan hangat karena dinilai tetap relevan dengan perkembangan zaman.

"Beliau mampu menyesuaikan tradisi ludruk dengan perkembangan era dan wilayah. Dulu ludruk personelnya banyak dan musiknya masih konvensional, sekarang beliau sudah memakai sistem digital. Itu bentuk adaptasi," jelas Yusuf.

Ia menambahkan, kemampuan Cak Kartolo tampil secara solo juga menjadi keunikan tersendiri. Padahal, ludruk selama ini identik dengan pertunjukan kelompok.

"Beliau ini legenda yang bisa tampil solo, padahal dasarnya grup. Tidak semua seniman bisa seperti itu," imbuhnya.

Tak hanya dikenal sebagai seniman panggung, Cak Kartolo juga dinilai memiliki kesadaran dokumentasi yang kuat. Sejak puluhan tahun lalu, ia secara mandiri menyimpan berbagai arsip perjalanan seninya, mulai dari naskah pertunjukan, skrip, agenda kegiatan, hingga catatan pribadi.

"Aspek penilaiannya berasal dari arsip-arsip milik beliau. Sejak tahun 1960-an beliau sudah mendokumentasikan kegiatannya sendiri. Tidak punya manajer, tapi administrasinya tertata," terangnya.

Menurut Yusuf, konsistensi tersebut menjadi bukti keseriusan Cak Kartolo menjaga ludruk agar terus dekat dengan masyarakat dan mampu mengikuti perkembangan audiens.

"Kalau diundang kantor, tema jula-juli bisa langsung disesuaikan dengan instansi yang mengundang. Tidak semua orang bisa seperti itu, apalagi di usia beliau yang sudah 81 tahun," katanya.

Program Memori Kolektif Bangsa sendiri merupakan upaya ANRI dalam menyelamatkan arsip bernilai sejarah yang merepresentasikan identitas bangsa. Arsip yang ditetapkan harus melalui proses seleksi dan verifikasi ketat.

"Pengajuan Memori Kolektif Bangsa dilakukan setiap tahun dan ada proses seleksi panjang. Tidak bisa langsung lolos begitu saja," tutupnya.

Sebagai informasi, Cak Kartolo dikenal luas sebagai seniman ludruk yang identik dengan jula-juli, yakni pantun atau parikan khas Jawa Timuran yang menjadi bagian penting dalam pertunjukan ludruk.

Pengakuan ini sekaligus menegaskan ludruk bukan sekadar hiburan rakyat, melainkan warisan budaya yang menjadi bagian dari memori kolektif bangsa dan terus hidup di tengah masyarakat lintas generasi.

Reporter: Amanah/Editor: Santi

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.