25 May 2026

Get In Touch

Rupiah Masih Loyo, Investor Waspadai Risiko Baru Ekonomi RI

Teller money changer menghitung uang rupiah pecahan 100.000. (REUTERS)
Teller money changer menghitung uang rupiah pecahan 100.000. (REUTERS)

JAKARTA (Lentera) - Nilai tukar rupiah masih tampil loyo sepanjang pekan ini dan ditutup melemah ke level Rp17.673 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat (22/5/2026). Pelemahan tersebut terjadi di tengah meningkatnya kewaspadaan investor terhadap sejumlah risiko baru ekonomi Indonesia. 

Mengutip laporan Bloomberg, pada perdagangan Jumat (22/5/2026), rupiah ditutup melemah 0,11% ke level Rp17.673 per dolar AS.

Pelemahan ini memperpanjang tren negatif rupiah sepanjang pekan ini, setelah sebelumnya sempat menguat sesaat usai Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,25%.

Secara akumulatif, rupiah tercatat melemah 1,38% dalam sepekan dan menjadi mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan.

Pelaku pasar menilai tekanan terhadap rupiah tidak hanya dipengaruhi sentimen global, tetapi juga berasal dari dalam negeri. Sejumlah kebijakan pemerintah dinilai berpotensi memperbesar beban fiskal karena membutuhkan anggaran jumbo di tengah kondisi ekonomi yang masih penuh tantangan.

Selain itu, rencana pembentukan badan pengawas ekspor komoditas juga memicu kekhawatiran investor. Pasar menilai langkah tersebut berpotensi memperbesar kontrol negara terhadap aktivitas ekspor dan menimbulkan ketidakpastian baru bagi dunia usaha.

Investor juga mempertanyakan efektivitas badan tersebut dalam menekan praktik under-invoicing maupun transfer pricing untuk meningkatkan penerimaan negara dari sektor komoditas.

Sentimen negatif terhadap rupiah semakin bertambah setelah Bank Indonesia merilis data Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) dan transaksi berjalan yang menunjukkan pelebaran defisit pada kuartal I-2026.

Bank Indonesia mencatat NPI mengalami defisit sebesar US$9,15 miliar pada kuartal pertama tahun ini. Angka tersebut jauh lebih dalam dibandingkan defisit kuartal sebelumnya yang sebesar US$6,07 miliar.

Sementara itu, transaksi berjalan juga berbalik mengalami defisit sebesar US$4 miliar atau setara 1,1% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Kondisi tersebut memburuk tajam dibandingkan kuartal sebelumnya yang masih mencatat surplus US$2,5 miliar. Artinya, dalam kurun satu kuartal terjadi perubahan posisi sekitar US$6,5 miliar.

Editor: Santi

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.