13 June 2026

Get In Touch

Tentara Jaga Demo Mahasiswa di Bundaran HI, Massa: Kembali ke Barak!

Aparat TNI AD memblokade massa mahasiswa yang hendak menuju bundaran HI, Jumat (12/6/2026) sore. (foto: ist/Kompas.com)
Aparat TNI AD memblokade massa mahasiswa yang hendak menuju bundaran HI, Jumat (12/6/2026) sore. (foto: ist/Kompas.com)

JAKARTA (Lentera) - Kehadiran puluhan personel TNI dalam pengamanan aksi demonstrasi mahasiswa di kawasan Bundaran HI, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Jumat (12/6/2026), memicu sorotan dan pertanyaan dari peserta aksi. Massa menilai keberadaan aparat militer dalam pengamanan demonstrasi sipil merupakan hal yang tidak lazim dan berpotensi menimbulkan intimidasi.

Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (UI) semula bergerak dari kawasan Semanggi menuju Bundaran HI untuk menyampaikan aspirasi. Namun, perjalanan mereka terhenti di sisi selatan Menara BCA setelah aparat kepolisian menutup akses menuju titik aksi dengan barikade berlapis yang juga diisi personel TNI AD.

Pemandangan tersebut langsung menjadi perhatian para mahasiswa. Salah satu peserta aksi, Gifar (20), mengaku terkejut melihat dominasi aparat militer di lokasi demonstrasi, sesuatu yang menurutnya belum pernah ia temui dalam aksi-aksi sebelumnya.

"Selama ini saya ikut aksi, biasanya cuma polisi. Ini sampai di sini banyak banget, malah kayaknya banyakan tentara daripada polisinya, ngapain coba mereka?" ujar Gifar di lokasi, mengutip dari Kompas.com.

Menurutnya, kehadiran personel TNI dalam pengamanan unjuk rasa patut dipertanyakan karena tidak berkaitan dengan tugas pokok militer sebagai alat pertahanan negara.

"Kalau kita lihat bahkan dari RUU TNI sendiri setahu saya tidak ada tupoksi mereka itu jagain demo. Mereka itu fungsinya pertahanan, bukan keamanan," katanya.

Ia menambahkan, jumlah aparat militer yang berjaga kali ini jauh lebih banyak dibandingkan pengamanan demonstrasi yang pernah diikutinya.

"Kaget juga saya, biasanya kalaupun ada paling berapa sih, ini malah mereka yang dominan," ucapnya.

Pandangan serupa disampaikan peserta aksi lainnya, Dugi (21). Ia menilai kehadiran TNI di tengah demonstrasi sipil dapat menimbulkan kesan intimidatif bagi masyarakat yang hendak menyampaikan pendapat di ruang publik.

"Saya melihatnya jadi seperti intimidasi. Kita mau ditakut-takutin bahwasannya hari ini tidak hanya polisi tetapi juga tentara turun langsung,"!kata Dugi.

Ia sempat menduga keberadaan aparat militer berkaitan dengan lokasi aksi yang berada di kawasan objek vital nasional. Meski demikian, menurutnya pengamanan demonstrasi tetap menjadi ranah kepolisian.

"Saya tidak bilang bahwa polisi itu baik saat menjaga, karena bahkan kami tadi ditahan oleh polisi tidak boleh ke sini (Bundaran HI). Tapi adanya militer di sini juga menyalahi aturan dan tidak etis," ujarnya.

Dugi juga menilai personel TNI seharusnya lebih berfokus pada tugas-tugas pertahanan negara, terutama di tengah situasi geopolitik yang berkembang.

"Banyak sekali hal yang seharusnya mereka lakukan, tapi malah jalanin food estate, mengelola MBG, dan sekarang mereka ikutan menekan kita saat menyampaikan aspirasi," tuturnya.

Sementara itu, peserta aksi lainnya, Dafi (20), mempertanyakan alasan pengerahan aparat militer dalam menghadapi demonstrasi mahasiswa yang berlangsung damai.

"Kenapa pakai tentara segala? Memang kami mau ngapain? Kami bawa senjata juga enggak, malah mereka yang bersenjata," katanya.

Berdasarkan pantauan Kompas.com di lokasi, personel TNI AD berdiri berbaris di belakang barikade kepolisian dengan posisi menghadap massa aksi. Situasi tersebut memicu respons mahasiswa yang beberapa kali meneriakkan seruan penolakan terhadap keterlibatan militer dalam pengamanan demonstrasi.

"Tentara kembali ke barak! Tentara jangan melawan sipil!" teriak massa secara bergantian.

Massa Mahasiswa Tertahan

Sebelumnya, ratusan mahasiswa UI dari berbagai fakultas bergerak menuju Bundaran HI dengan berjalan kaki setelah bus yang mereka tumpangi sempat diadang aparat di kawasan Semanggi.

Perjalanan berlangsung tanpa hambatan hingga memasuki kawasan Dukuh Atas. Namun, sesaat sebelum mencapai Bundaran HI, tepatnya di sekitar Menara BCA, Jalan Jenderal Sudirman, aparat kepolisian telah membentuk barikade rapat yang diperkuat oleh puluhan prajurit TNI AD di belakangnya.

Akibat penutupan akses tersebut, massa mahasiswa tidak dapat melanjutkan perjalanan menuju titik aksi yang direncanakan.

Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Pol Reynold Hutagalung, tampak berada di depan barisan aparat dan sempat berdialog dengan Ketua BEM FISIP UI Rafael Arefa serta Ketua BEM FEB UI Jundi Al Muhandis.

Dalam dialog tersebut, perwakilan mahasiswa meminta izin untuk melanjutkan perjalanan menuju Bundaran HI. Namun, permintaan itu tidak dikabulkan.

"Bisa sampai di dekat sini saja. Dekat sini, sini saja," ujar Kapolres kepada massa.

Penolakan tersebut sempat memicu aksi saling dorong antara sejumlah mahasiswa dan aparat kepolisian. Hingga aksi berlangsung, massa masih bertahan di lokasi sambil terus menyampaikan orasi.

"Buka, buka, buka jalannya, buka jalannya," teriak mahasiswa meminta barikade aparat dibuka.

Editor: Santi

Share:

Punya insight tentang peristiwa terkini?

Jadikan tulisan Anda inspirasi untuk yang lain!
Klik disini untuk memulai!

Mulai Menulis
Lentera Today.
Lentera Today.