16 June 2026

Get In Touch

Usai Aksi di Gejayan, Eks Ketua BEM UGM Temukan Alat Pelacak di Mobilnya

Eks Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM) periode 2025, Tiyo Ardianto menunjukkan alat pelacak yang sempat menempel di rangka bawah mobil yang dikendarainya sepulang dari Gejayan. (foto: Tangkapan layar instagram pribadi Tiyo
Eks Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM) periode 2025, Tiyo Ardianto menunjukkan alat pelacak yang sempat menempel di rangka bawah mobil yang dikendarainya sepulang dari Gejayan. (foto: Tangkapan layar instagram pribadi Tiyo

YOGYAKARTA (Lentera) - Eks Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM) periode 2025, Tiyo Ardianto, mengaku menemukan sebuah alat pelacak yang terpasang di bagian bawah mobil yang dikendarainya usai pulang dari aksi demonstrasi di kawasan Gejayan, Sabtu (13/6/2026).

Peristiwa itu diungkapkan Tiyo melalui video yang diunggah di akun Instagram pribadinya. Dalam rekaman tersebut, mahasiswa Program Studi S1 Filsafat UGM itu terlihat memeriksa rangka bawah mobil setelah menerima notifikasi mencurigakan dari gawainya.

"Alat pelacak yang bernama PBX Finder ditemukan bergerak bersama saya," ujar Tiyo saat membacakan notifikasi yang diterimanya.

Tiyo menjelaskan, mobil yang digunakan bukan merupakan kendaraan pribadinya. Ia meminjam mobil milik saudaranya untuk menunjang aktivitas sehari-hari karena belakangan merasa kurang aman saat bepergian

Setelah menemukan perangkat tersebut, Tiyo menghubungi sejumlah orang terdekat untuk meminta saran. Ia kemudian disarankan merendam alat pelacak itu ke dalam air guna menghentikan fungsinya.

"Saya tidak tahu siapa yang pasang alat pelacak itu," kata Tiyo. Atas kejadian tersebut, Tiyo menduga dirinya menjadi sasaran penguntitan oleh pihak yang tidak dikenalnya.

Menurutnya, dugaan penggunaan alat pelacak terhadap dirinya merupakan hal yang tidak lazim. Ia kemudian mengaitkan peristiwa tersebut dengan situasi yang, menurut pandangannya, kerap dialami masyarakat yang menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah.

Belakangan, Tiyo juga mengaku menerima informasi, sejumlah rekannya di BEM UGM mengalami gangguan berupa pesan singkat dari pengirim yang tidak dikenal. Ia menyebut pesan-pesan tersebut diterima sejak 13 Juni 2026.

"Belum didata berapa banyak, tapi kemungkinan sekitar 30-an," katanya.

Tiyo menilai penggunaan cara-cara intimidatif untuk membungkam suara kritis merupakan tindakan yang disayangkan. Menurutnya, kritik yang disampaikan masyarakat sipil semestinya dipandang sebagai bentuk kepedulian terhadap masa depan bangsa, bukan ancaman.

"Kritik itu dilakukan atas dasar ketulusan cinta kepada Tanah Air. Betapa berbahayanya menjadi manusia Indonesia yang mencintai bangsanya. Kita beri obat untuk penyakit-penyakitnya, tapi ia justru mencoba meracuni kita," ujarnya.

Editor: Santi/Berbagai sumber

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.