SURABAYA (Lentera)- Rakernas XVIII Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) 2026 di Kota Medan menjadi forum strategis bagi 98 pemerintah kota untuk merumuskan berbagai rekomendasi kebijakan yang akan disampaikan kepada pemerintah pusat. Tak hanya membahas Bahas Transfer ke Daerah (TKD) hingga pendapatan asli daerah (PAD), kemudian tantangan daerah, namun forum ini juga difokuskan untuk menghadirkan solusi konkret melalui kolaborasi, inovasi, dan saling berbagi praktik terbaik antarkota.
Komitmen tersebut ditegaskan Ketua Dewan Pengurus APEKSI sekaligus Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, saat membuka rangkaian Rakernas XVIII APEKSI di Medan, Rabu (1/7/2026) malam. Rangkaian kegiatan Rakernas berlangsung pada 28 Juni hingga 4 Juli 2026.
Eri mengatakan, pemerintah kota saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari penanganan bencana, pengurangan Transfer ke Daerah (TKD), efisiensi anggaran, belanja pegawai, pengelolaan sampah, hingga berbagai dampak perubahan kebijakan fiskal nasional. Menurutnya, kondisi tersebut menuntut pemerintah daerah untuk terus berinovasi dan memperkuat kolaborasi.
"Kita diciptakan bukan untuk berkeluh kesah. Tapi kita diciptakan untuk terus berinovasi, membangun kekuatan kita dengan bersinergi antara satu kota dengan kota yang lainnya," kata Eri dikutip Kamis (2/7/2026).
Untuk itu, ia menegaskan APEKSI tidak boleh hanya menjadi forum penyampaian persoalan daerah, tetapi harus mampu melahirkan solusi dan rekomendasi kebijakan yang dapat menjadi masukan bagi pemerintah pusat.
Menurut Eri, tantangan pemerintah daerah tidak bisa diselesaikan secara sendiri-sendiri. APEKSI harus menjadi ruang kolaborasi agar setiap kota dapat saling belajar, berbagi inovasi, serta memperkuat kapasitas satu sama lain.
"Kita punya tekad bahwa APEKSI hari ini tidak ada kota yang tertinggal dan tidak ada kota yang paling baik di antara kita. Tapi ketika sesama kota itu bisa saling menguatkan, ketika ada kelebihan di kota itu diberikan kepada kota yang lainnya, itu baru namanya APEKSI untuk negeri," tuturnya.
Dalam Rakernas XVIII APEKSI, para peserta membahas sejumlah isu strategis, di antaranya revisi Undang-Undang Pemerintahan Daerah, Undang-Undang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (HKPD), kebijakan belanja pegawai, ketahanan pangan, penguatan pendapatan asli daerah (PAD), hingga implementasi Proyek Strategis Nasional (PSN).
Berbagai pembahasan tersebut dilakukan melalui forum-forum perangkat daerah, seperti Forum Pangan, Forum Kepala Bappeda (BAKTI), Forum Lingkungan Hidup, Forum Komunikasi dan Digital, serta Forum Bisnis dan Investasi.
Selain itu, Ketua TP PKK dan Dekranasda mengikuti forum penguatan kapasitas, sementara generasi muda dari berbagai kota menyampaikan gagasan melalui forum Youth City Changers (YCC).
Dalam kegiatan itu, Eri juga menekankan pentingnya berbagi inovasi antardaerah. Ia mencontohkan digitalisasi sistem parkir di Surabaya yang mampu meningkatkan PAD sekitar 30 persen. Menurutnya, berbagai inovasi yang telah berhasil diterapkan di suatu daerah seharusnya dapat diadopsi oleh kota lain tanpa harus memulai dari nol.
"Maka ketika ada teman kita yang kekurangan, kita kasih saja aplikasinya, kita berikan apa yang kita punya. Insyaallah itu akan menjadi amal jariyah kita, akan menguatkan satu sama lain di antara kita," jelasnya.
Ia menambahkan, inovasi pemerintah kota yang tergabung dalam APEKSI kini mulai mendapat perhatian dunia. Sejumlah pemerintah daerah dari luar negeri datang ke Indonesia untuk mempelajari berbagai inovasi pelayanan publik yang dikembangkan oleh kota-kota anggota APEKSI.
Di sisi lain, APEKSI juga mendorong penguatan city branding sebagai strategi meningkatkan daya saing daerah sekaligus mendongkrak PAD. Menurut Eri, keberhasilan sejumlah kota dalam mengembangkan identitas daerah dapat menjadi inspirasi bagi kota-kota lainnya.
Pada akhir Rakernas, seluruh wali kota akan merumuskan rekomendasi strategis yang akan disampaikan kepada pemerintah pusat sebagai masukan terhadap berbagai kebijakan nasional, mulai dari regulasi TKD, implementasi PSN, hingga langkah menghadapi tantangan ekonomi dan fiskal ke depan.
"Kita tidak hanya menyampaikan masalah, tetapi kita juga harus menyampaikan solusi. Karena APEKSI bukan untuk menyampaikan keluh kesah, tapi APEKSI memberikan solusi," tegasnya.
Eri optimistis sinergi 98 pemerintah kota anggota APEKSI akan semakin memperkuat peran pemerintah daerah dalam mendukung pembangunan nasional. "Karena saya yakin negara ini berdaulat kalau kota-kota ini kuat. Maka dengan tema Rakernas APEKSI, Kota Tangguh, Bangsa Berdaulat," pungkasnya. (*)
Reporter: Amanah
Editor : Lutfiyu Handi





.jpg)