KRITIK terhadap pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) terus berulang. Terbaru, sorotan mencuat setelah video viral memperlihatkan bangunan koperasi di lokasi perbukitan yang terisolasi hingga dijuluki warganet sebagai KDMP 'di atas awan". Sebelumnya, pembangunan KDMP di kawasan Stone Garden, Kabupaten Bandung Barat, juga menjadi perhatian karena berdiri di area parkir objek wisata geologi yang dinilai jauh dari permukiman warga. Sorotan serupa muncul terhadap pembangunan KDMP senilai Rp1,5 miliar di kawasan tebing Ngarai Sianok, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Kritik juga mengarah ke pembangunan KDMP di Dusun I, Desa Sungai Petai, Kecamatan Talo Kecil, Kabupaten Seluma, Bengkulu, yang lokasinya dinilai kurang strategis.Di balik pembangunan fisik tersebut, persoalan operasional juga mulai mencuat. Sejumlah petugas yang telah direkrut mengaku belum menerima petunjuk teknis mengenai tugas mereka. Kepastian mengenai skema kerja maupun besaran gaji juga disebut belum dijelaskan meski proses perekrutan telah berlangsung.Di tengah gelombang kritik itu, pemerintah melakukan penyesuaian target program. Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan memangkas target operasional KDMP tahun ini menjadi 40.000 unit dari semula 80.000 unit. Pemerintah menyatakan akan memprioritaskan penyelesaian pembangunan fisik dan sarana pendukung agar unit yang telah dibangun dapat beroperasi secara bertahap. Target operasional penuh gerai KDMP pun bergeser menjadi Oktober 2026, dari rencana sebelumnya yang ditargetkan mulai beroperasi serentak pada Agustus 2026.Kini, pertanyaan publik bukan lagi berapa banyak KDMP yang berhasil dibangun, melainkan berapa banyak yang benar-benar siap beroperasi dan melayani masyarakat. BACA BERITA LENGKAP, KLIK DISINI https://lenteratoday.com/upload/Epaper/07072026.pdf




.jpg)
.jpg)
.jpg)