MADIUN (Lentera) -Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Madiun mulai digelar pada Kamis (31/1/2026). Namun, sekitar 360 siswa dari jenjang SD, SMP, dan SMA belum dapat mengikuti pendidikan berasrama karena sejumlah fasilitas utama masih dalam tahap penyelesaian.
Pantauan di kompleks Sekolah Rakyat seluas sekitar lima hektare di Kelurahan Nglames, Kabupaten Madiun, menunjukkan pekerjaan konstruksi masih memasuki tahap akhir. Sejumlah fasilitas, terutama toilet, kamar mandi asrama, serta sarana penunjang lainnya, belum sepenuhnya siap digunakan.
Kondisi tersebut membuat pelaksanaan MPLS dilakukan secara terbatas. Setelah mengikuti kegiatan pengenalan, para siswa dipulangkan dan baru akan kembali menempati asrama setelah seluruh fasilitas dinyatakan layak beroperasi.
Direktur Rehabilitasi Sosial Tuna Sosial dan Korban Perdagangan Orang Kementerian Sosial RI, Rachmat Koesnadi, mengatakan bangunan utama dan ruang kelas pada dasarnya sudah siap digunakan. Namun, penyelesaian fasilitas sanitasi masih menjadi prioritas.
"Secara prinsip bangunan sudah siap. Yang masih berproses adalah toilet dan kamar mandi di asrama. Mudah-mudahan dalam lima sampai sepuluh hari sudah fungsional sehingga anak-anak bisa mulai menghuni asrama," kata Rachmat.
Selain sanitasi, penyelesaian kantin juga tinggal memasuki tahap akhir, meliputi pemasangan instalasi air dan pembersihan area.
Menurut Rachmat, apabila pekerjaan selesai sesuai target, para siswa diperkirakan mulai menghuni asrama dan mengikuti pembelajaran secara penuh pada 10–15 Agustus 2026.
Saat ini, sebanyak sekitar 360 siswa telah terdaftar sebagai peserta didik. Mereka berasal dari Kabupaten Madiun dan Kabupaten Ponorogo.
Saat ini, rekrutmen tenaga pendidik dan tenaga kependidikan masih berlangsung. Seleksi guru telah rampung dan kini menunggu penugasan resmi dari pemerintah.
Selama masa transisi, kegiatan belajar mengajar didukung guru dari Dinas Pendidikan Kabupaten Madiun dan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur.
Ke depan, Sekolah Rakyat Terintegrasi diproyeksikan memiliki 50–70 guru beserta tenaga pendukung, termasuk wali asrama dan tenaga kependidikan lainnya.
Rachmat menegaskan proses penyelenggaraan Sekolah Rakyat dilakukan secara bertahap mengikuti kesiapan sarana dan prasarana. Karena itu, siswa sementara dipulangkan dan akan kembali mengikuti MPLS serta tinggal di asrama setelah seluruh fasilitas dinyatakan siap digunakan.
Reporter
Reporter:Wiwiet Eko Prasetyo|Editor: Arifin BH





.jpg)