PALANGKA RAYA (Lentera) - Kondisi kabut asap kembali memburuk pada Selasa siang, 29 September 2026. Bahkan sempat menyisakan jarak pandang yang kurang dari 100 meter.
Prakirawan Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut, Chandra, mengatakan dampak karhutla tahun ini disebut lebih berat. Kondisi ini terlihat dari dampak kebakaran serta pekatnya asap yang kemudian berpengaruh terhadap kualitas udara.
“Untuk dampak kerusakannya, seperti kebakaran hutan dan lahan, dari data memang menunjukkan lebih parah dibandingkan 2015, demikian juga dengan kondisi asapnya yang lebih pekat sehingga memengaruhi kualitas udara,” papar Chandra, Selasa (29/9/2026).
Kota Palangka Raya menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak buruknya kualitas udara akibat banyaknya titik panas dan kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Berdasarkan hasil pemantauan kualitas udara, konsentrasi partikulat halus atau PM2.5 di Palangka Raya pada pukul 13.00 WIB mencapai sekitar 1.976 mikrogram per meter kubik (µg/m³).
Konsentrasi tersebut mendekati angka 2.000 µg/m³ dan menunjukkan kondisi kualitas udara yang sangat buruk. Sebagai perbandingan, konsentrasi PM2.5 sekitar 250 µg/m³ saja sudah berada pada kondisi yang perlu diwaspadai. Dengan demikian, angka yang tercatat pada Selasa siang berada beberapa kali lipat lebih tinggi.
Tingginya konsentrasi PM2.5 menjadi salah satu gambaran pekatnya kabut asap yang menyelimuti Palangka Raya.
"Kondisi kualitas udara yang buruk ini berpotensi berdampak negatif terhadap kesehatan masyarakat, terutama kelompok yang rentan terhadap paparan partikulat," jelasnya.
Sementara itu, di tengah kondisi kemarau yang masih berlangsung, BMKG memperkirakan peluang hujan di wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng) akan dimulai dalam sepekan ke depan.
Hujan diprakirakan umumnya berada pada kategori ringan hingga sedang. Namun, di sejumlah wilayah bagian utara Kalteng berpotensi mendapatkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. Peningkatan curah hujan tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi kondisi kering sekaligus menekan kabut asap akibat karhutla.
Chandra mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai perubahan cuaca. Sebab, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat dapat disertai petir atau kilat dan angin kencang.
"Awal musim hujan di sebagian besar wilayah Kalteng diperkirakan akan mulai terjadi pada akhir Oktober hingga awal November 2026,” ungkapnya.
Sementara itu, ribuan titik panas masih terpantau di Kalteng. Sebanyak 8.093 hotspot terdeteksi berdasarkan pemantauan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan situs SiPongi, diikuti laporan dari kabupaten/kota yang mencatat 88 kejadian karhutla dengan total area terbakar mencapai 195,57 hektare.
Dari data ini menunjukkan penanganan karhutla di Kalteng masih membutuhkan kewaspadaan tinggi. Sebaran titik panas juga tidak terkonsentrasi di satu wilayah, melainkan tersebar di sejumlah kabupaten dengan jumlah yang cukup besar.
Penanganan karhutla dilakukan dengan melibatkan berbagai unsur, mulai pemerintah daerah, TNI, Polri, Manggala Agni, masyarakat hingga unsur penanggulangan bencana lainnya.
“Kunci penanganan karhutla adalah kecepatan informasi, kecepatan respons dan kesinambungan penanganan, dimana ketika ada indikasi titik api, petugas dan relawan harus segera bergerak agar api tidak berkembang dan meluas,” ucap Chandra.
Menurutnya, langkah pembasahan lahan menjadi salah satu bagian penting dalam strategi tersebut. Terutama pada kawasan dengan karakteristik gambut yang memiliki potensi untuk menyimpan bara di bawah permukaan.
Penanganan karhutla tidak akan cukup apabila hanya mengandalkan personel pemerintah dan petugas pemadam.
"Pencegahan harus menjadi tanggung jawab bersama, masyarakat diharapkan berperan aktif, melaporkan apabila menemukan potensi kebakaran, dan tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu terjadinya karhutla,” tegasnya.
Reporter : Novita|Editor: Arifin BH






.jpg)


.jpg)






.jpg)