06 October 2026

Get In Touch

RSUD dr. Soedomo Trenggalek Tambah Kapasitas Cuci Darah, Kini Punya 31 Mesin Hemodialisis

Pj Sekda Trenggalek Stefanus Triadi Atmojo bersama jajaran RSUD dr. Soedomo meninjau fasilitas gedung layanan dialisis baru yang dilengkapi 31 mesin hemodialisis, Senin (5/10/2026). Penambahan kapasitas ini diharapkan mampu mengurangi antrean pasien cuci d
Pj Sekda Trenggalek Stefanus Triadi Atmojo bersama jajaran RSUD dr. Soedomo meninjau fasilitas gedung layanan dialisis baru yang dilengkapi 31 mesin hemodialisis, Senin (5/10/2026). Penambahan kapasitas ini diharapkan mampu mengurangi antrean pasien cuci d

TRENGGALEK (Lentera) – Pasien gagal ginjal di Kabupaten Trenggalek kini memiliki peluang lebih besar mendapatkan layanan cuci darah tanpa harus keluar daerah, dengan resmi mengembangkan gedung layanan dialisis serta menambah kapasitas mesin hemodialisis dari sebelumnya 14 unit menjadi 31 unit yang diresmikan, Senin (5/10/2026).

Penambahan kapasitas ini, diharapkan mampu mengurai antrean pasien yang selama ini harus menjalani terapi hemodialisis di sejumlah rumah sakit di luar Kabupaten Trenggalek.

Penjabat Sekretaris Daerah (Pj Sekda) Trenggalek, Stefanus Triadi Atmono mengatakan pengembangan layanan dialisis merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah meningkatkan akses sekaligus mutu pelayanan kesehatan bagi masyarakat.

"Ini merupakan komitmen untuk meningkatkan akses dan mutu pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Saat ini pelayanan dialisis melayani 78 pasien hemodialisis reguler aktif, sementara terdapat 145 pasien dalam daftar tunggu. Kondisi ini menunjukkan kebutuhan masyarakat terhadap layanan tersebut masih tinggi," kata Triadi saat peresmian.

Menurutnya, penambahan fasilitas tidak hanya berkaitan dengan peningkatan jumlah pasien yang dapat dilayani. Lebih dari itu, kapasitas baru diharapkan mampu memperpendek waktu tunggu sekaligus memberikan pelayanan yang lebih aman dan nyaman bagi pasien.

"Kami berharap penambahan kapasitas pelayanan ini dapat memperluas akses masyarakat, mengurangi waktu tunggu, serta meningkatkan keselamatan dan kenyamanan pasien," ujarnya.

Triadi juga menyoroti, adanya pasien yang berhasil menghentikan terapi hemodialisis setelah kondisi fungsi ginjalnya mengalami perbaikan. Tercatat 11 pasien dinyatakan berhenti menjalani terapi cuci darah setelah mendapatkan evaluasi medis.

"Ini patut diapresiasi karena menunjukkan bahwa pelayanan tidak semata-mata berorientasi pada tindakan, tetapi juga pada pemulihan, keselamatan, dan peningkatan kualitas hidup pasien," tambahnya.

Sementara itu, Direktur RSUD dr. Soedomo Trenggalek, dr. Saeroni menjelaskan penambahan mesin hemodialisis bukan ditujukan untuk sekadar mengejar peningkatan jumlah pasien, fasilitas tersebut dibangun berdasarkan analisis kebutuhan pelayanan serta keterbatasan kapasitas gedung sebelumnya.

"Penambahan mesin baru ini bukan untuk mengejar volume, tetapi untuk mengoptimalkan pelayanan. Pasien gagal ginjal membutuhkan terapi cuci darah secara kontinu, umumnya dua kali dalam seminggu," jelas Saeroni.

Ia menyebut, keterbatasan ruangan dan jumlah mesin di gedung lama menjadi salah satu penyebab munculnya antrean panjang. Kondisi tersebut membuat sebagian pasien harus mencari layanan hemodialisis di rumah sakit lain, termasuk di luar Trenggalek.

Saat ini terdapat 145 pasien yang masuk daftar tunggu dan masih menjalani cuci darah di berbagai fasilitas kesehatan di luar Kabupaten Trenggalek.

"Pengembangan gedung dan penambahan alat ini dilakukan berdasarkan analisa pelayanan dan kebutuhan. Dengan adanya gedung baru serta jumlah alat yang lebih banyak, kami berharap pasien dalam daftar tunggu bisa terlayani di Trenggalek sehingga mereka tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk cuci darah di luar daerah," ungkap Saeroni.

Dokter spesialis penyakit dalam bersertifikat dialisis RSUD dr. Soedomo, dr. Agus Dahana menjelaskan perubahan kapasitas layanan tersebut cukup signifikan. Sebelumnya, rumah sakit memiliki 14 mesin hemodialisis dengan beberapa unit harus dialokasikan untuk kebutuhan khusus.

"Pada layanan sebelumnya terdapat 14 mesin cuci darah. Satu mesin digunakan sebagai back up, satu untuk emergency, dan satu untuk isolasi airborne," terang Agus.

Sementara pada gedung layanan dialisis yang baru, jumlah mesin meningkat menjadi 31 unit. Dari jumlah tersebut, satu mesin diperuntukkan bagi pasien isolasi airborne, satu untuk pasien hepatitis B, satu sebagai mesin cadangan atau back up, sedangkan 28 mesin digunakan untuk pelayanan reguler.

"Penambahan kapasitas ini diharapkan dapat memberikan ruang pelayanan yang lebih besar sehingga pasien yang selama ini masuk daftar tunggu bisa mendapatkan akses layanan di Trenggalek," katanya.

 Agus menambahkan, saat ini terdapat sekitar 77 pasien yang menjalani cuci darah secara reguler. Di sisi lain, masih ada 145 pasien yang masuk daftar antrean dan tersebar di rumah sakit di luar Trenggalek.

"Pasien dalam daftar tunggu tersebut masih tersebar di luar Trenggalek. Dengan adanya gedung baru ini, harapannya mereka bisa mengakses layanan di daerah sendiri sehingga biaya yang harus dikeluarkan untuk menjalani terapi dapat ditekan," ujarnya.

Untuk mendukung operasional layanan tersebut, RSUD dr. Soedomo memiliki dua dokter spesialis penyakit dalam yang telah bersertifikat dialisis, yakni dr. Agus Dahana, FINASIM., FISQUA dan dr. A. Dedi Rusmanto, Sp.PD, FINASIM.

Selain itu, terdapat dokter umum bersertifikat dialisis, dr. Endri Sulistiyani. Pelayanan juga diperkuat 25 perawat yang telah memiliki sertifikat mahir dialisis, serta satu perawat yang masih menjalani proses pelatihan dialisis.

Kualitas sumber daya manusia di unit hemodialisis RSUD dr. Soedomo juga pernah mendapat pengakuan di tingkat nasional. Tim perawat dialisis rumah sakit tersebut berhasil meraih juara dalam lomba edukasi perawat dialisis tingkat nasional pada 2023.

Di tengah pengembangan fasilitas tersebut, keberhasilan pasien menghentikan terapi hemodialisis setelah fungsi ginjalnya membaik turut menjadi perhatian. Salah satunya Rusnawati, perempuan berusia 67 tahun yang sebelumnya menjalani cuci darah dan kemudian dinyatakan tidak lagi membutuhkan terapi tersebut setelah kondisi kesehatannya membaik.

Saat berbagi pengalaman dalam peresmian gedung layanan dialisis, Rusnawati mengatakan kepatuhan terhadap arahan dokter dan pengaturan pola makan menjadi bagian penting selama menjalani proses pengobatan.

"Yang penting mengikuti arahan dokter dan mau pantang. Menghindari makanan-makanan yang dilarang," ujar Rusnawati.

Dengan beroperasinya gedung baru dan bertambahnya kapasitas mesin hemodialisis, RSUD dr. Soedomo Trenggalek diharapkan dapat mengurangi antrean sekaligus memperluas akses pelayanan bagi pasien gagal ginjal. Kebijakan ini juga diharapkan meringankan beban pasien karena mereka tidak lagi harus rutin melakukan perjalanan ke luar daerah untuk mendapatkan terapi cuci darah.

 

Reporter: Herlambang/Editor: Ais

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.