SURABAYA ( LENTERA ) - Migrain bukan sekadar sakit kepala biasa. Kondisi neurologis ini dapat menyebabkan nyeri hebat, mual, muntah, gangguan penglihatan, hingga kesulitan berkonsentrasi. Perempuan tercatat tiga kali lebih mungkin mengalami migrain dibandingkan laki-laki, dengan perubahan hormon menjadi salah satu faktor yang menjelaskan perbedaan tersebut.
Migrain disebut memengaruhi sekitar satu dari tujuh orang di seluruh dunia atau lebih dari satu miliar orang, menurut badan amal Migraine Trust di Inggris. Dampaknya tidak hanya dirasakan saat serangan berlangsung, tetapi juga dapat memengaruhi pekerjaan, hubungan sosial, dan kesehatan mental.
Migrain merupakan kondisi neurologis yang memiliki komponen genetik. Otak penderita cenderung lebih sensitif terhadap berbagai perubahan, sehingga faktor tertentu dapat memicu rangkaian proses yang menghasilkan gejala migrain. Namun, tidak semua orang yang memiliki kecenderungan genetik akan mengalami serangan.
Dr Katy Munro, pakar migrain dari National Migraine Centre di Inggris, menjelaskan bahwa gejala migrain dapat berbeda pada setiap orang, bahkan pada anggota keluarga yang sama. Gejalanya juga dapat berubah sepanjang hidup seseorang.
Perubahan Hormon
Salah satu faktor yang menjelaskan tingginya kasus migrain pada perempuan adalah perubahan hormon sepanjang kehidupan. Menurut Munro, sekitar 10 persen anak-anak mengalami migrain, baik perempuan maupun laki-laki. Perbedaan jumlah penderita mulai terlihat setelah pubertas, ketika anak perempuan memasuki siklus menstruasi.
Penurunan kadar estrogen menjelang menstruasi dapat memicu serangan migrain pada sebagian perempuan. Akibatnya, serangan dapat muncul berulang pada periode yang sama setiap bulan dan mengganggu aktivitas sehari-hari.
Perubahan hormon juga dapat memperburuk migrain selama perimenopause, yaitu masa transisi sebelum menopause. Pada periode ini, kadar hormon mengalami fluktuasi yang dapat memengaruhi pola serangan.
Munro menjelaskan, migrain pada masa perimenopause menjadi persoalan besar bagi banyak perempuan. Kondisi tersebut juga dapat beriringan dengan masalah tidur, tanggung jawab keluarga, serta tuntutan pekerjaan yang menambah beban fisik dan emosional.
Setelah menopause, sebagian perempuan mengalami serangan yang lebih jarang atau tidak terlalu parah. Hal ini dapat terjadi karena kadar hormon menjadi lebih stabil, meskipun perubahan tersebut tidak dialami semua orang.
Stres, Kurang Tidur dan Perubahan Cuaca
Perubahan hormon bukan satu-satunya pemicu migrain. Serangan biasanya berkaitan dengan kombinasi sejumlah faktor yang terakumulasi hingga melewati ambang toleransi tubuh seseorang.
Stres merupakan salah satu faktor yang kerap berperan. Namun, serangan tidak selalu muncul ketika seseorang sedang menghadapi tekanan. Periode tenang setelah masa yang penuh stres juga dapat memicu migrain.
Pola tidur yang tidak teratur, tidur terlalu sedikit atau terlalu lama, serta melewatkan waktu makan juga dapat berkontribusi.
Perubahan kadar gula darah, dehidrasi, dan perubahan cuaca, termasuk suhu, kelembapan, serta tekanan atmosfer, dapat menjadi pemicu bagi sebagian penderita.
Selain itu, kondisi medis tertentu, seperti kekurangan zat besi, penyakit celiac, dan gangguan fungsi tiroid, dapat berkaitan dengan keluhan sakit kepala atau memperburuk kondisi seseorang. Jika serangan sering berulang, pemeriksaan medis diperlukan untuk menilai kemungkinan faktor penyerta tersebut.
Munro menyarankan penderita mengenali perubahan yang terjadi dalam dua atau tiga hari sebelum serangan. Pendekatan ini membantu mereka mengidentifikasi pola pemicu yang mungkin berulang.
Meski demikian, tidak semua pemicu dapat dihindari. Karena itu, penderita tidak perlu menyalahkan diri sendiri ketika serangan tetap terjadi meskipun sudah berusaha menjaga pola hidup.
Empat Tahap Migrain
Serangan migrain dapat berlangsung melalui empat tahap, meskipun tidak semua penderita mengalami seluruh tahap tersebut.
Tahap pertama adalah prodrome, yaitu fase pertanda awal sebelum sakit kepala muncul. Gejalanya dapat berupa sering menguap, kelelahan, perubahan suasana hati, atau nyeri leher.
Tahap kedua adalah aura, yang dapat berlangsung hingga sekitar satu jam. Pada fase ini, sebagian penderita mengalami gangguan penglihatan berupa pola zig-zag, kilatan cahaya, atau bintik-bintik. Menurut laporan BBC, sekitar sepertiga penderita migrain mengalami aura.
Tahap ketiga merupakan fase sakit kepala yang dapat berlangsung selama empat hingga 72 jam. Nyeri dapat disertai mual, muntah, pusing, dan kesulitan berkonsentrasi. Tingkat keparahan serta kombinasi gejalanya berbeda pada setiap orang.
Tahap terakhir disebut postdrome, atau fase setelah serangan mereda. Penderita dapat merasa sangat lelah, sulit berkonsentrasi, atau belum sepenuhnya pulih meskipun nyeri kepala sudah berkurang.
Munro menggambarkan fase tersebut seperti perasaan baru saja dilindas mesin penggilas jalan. Ia mengingatkan bahwa seseorang mungkin sudah kembali bekerja, tetapi kemampuan untuk beraktivitas secara normal belum tentu pulih sepenuhnya.
Jaga Rutinitas
Pengelolaan migrain tidak hanya bergantung pada obat. Menjaga rutinitas harian dapat membantu sebagian penderita mengurangi risiko serangan.
Makan secara teratur menjadi salah satu langkah penting. Hindari melewatkan waktu makan, terutama jika kondisi tersebut membuat tubuh mudah mengalami penurunan kadar gula darah. Kebutuhan cairan juga perlu dipenuhi, khususnya ketika berolahraga atau beraktivitas di tengah cuaca panas.
Pola tidur yang konsisten turut berperan. Usahakan tidur dan bangun pada waktu yang relatif sama setiap hari. Perubahan jadwal yang terlalu besar pada akhir pekan dapat menjadi pemicu bagi sebagian penderita.
Olahraga tetap bermanfaat bagi kesehatan, tetapi pada sebagian orang aktivitas fisik yang berat dapat memicu serangan. Memastikan asupan makanan dan cairan mencukupi serta menyesuaikan intensitas olahraga dapat membantu mengurangi risiko tersebut.
Munro mencontohkan bahwa akhir pekan dapat menjadi periode yang rentan bagi sebagian penderita. Setelah terburu-buru menyelesaikan pekerjaan pada Jumat, seseorang mungkin tidur lebih larut atau mengubah kebiasaan hariannya.
Karena pemicu migrain berbeda-beda, penderita dapat mencatat waktu serangan, pola tidur, makanan, tingkat stres, siklus menstruasi, dan aktivitas sebelum gejala muncul. Catatan tersebut dapat membantu mengenali pola yang berguna untuk dibicarakan dengan dokter.
Pengobatan Perlu Disesuaikan
Penanganan migrain dapat mencakup obat untuk meredakan serangan dan pengobatan pencegahan bagi penderita yang sering mengalami keluhan. Menurut Munro, penggunaan obat yang tepat sejak awal serangan dapat membantu mengendalikan gejala sebelum berkembang lebih berat.
Obat pereda nyeri, seperti ibuprofen atau aspirin, dapat digunakan pada sebagian penderita jika sesuai dengan kondisi kesehatannya. Obat antimual juga dapat dipertimbangkan apabila serangan disertai mual atau muntah. Namun, pemilihan obat perlu memperhatikan riwayat penyakit, kemungkinan kehamilan, interaksi obat, dan kontraindikasi lainnya.
Triptan merupakan kelompok obat khusus untuk migrain yang dapat diresepkan dokter. Penggunaan obat secara berlebihan juga perlu dihindari karena dapat memicu sakit kepala akibat penggunaan obat berlebih. Karena itu, penderita yang sering membutuhkan obat pereda nyeri sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga medis.
Untuk pencegahan, terdapat sejumlah pilihan terapi yang dapat disesuaikan dengan frekuensi dan tingkat keparahan serangan. Salah satunya adalah pengobatan yang menargetkan CGRP (calcitonin gene-related peptide), molekul yang berperan dalam mekanisme migrain. Terapi ini bekerja dengan menghambat aktivitas CGRP atau jalur yang berkaitan dengannya.
Botox juga digunakan sebagai salah satu pilihan pencegahan pada pasien tertentu dengan migrain kronis. Sementara itu, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa suplemen magnesium dan vitamin B2 atau riboflavin berpotensi membantu mengurangi frekuensi serangan pada sebagian penderita.
Penggunaannya tetap perlu didiskusikan dengan tenaga medis, terutama karena dosis dan kebutuhan setiap orang berbeda.
Bagi perempuan yang mengalami migrain berkaitan dengan menstruasi atau perimenopause, pilihan terapi hormonal terkadang dapat dipertimbangkan. Namun, pil kontrasepsi dan terapi penggantian hormon tidak cocok untuk semua orang, khususnya karena sebagian jenis migrain dan faktor risiko tertentu dapat memengaruhi keamanan terapi estrogen. Keputusan penggunaannya perlu melalui penilaian dokter.
Terapi pendukung seperti akupunktur, yoga, tai chi, dan pendekatan psikologis tertentu juga dapat membantu sebagian penderita mengelola gejala atau mengurangi beban akibat nyeri. Manfaatnya dapat berbeda-beda dan tidak menggantikan pengobatan medis yang diperlukan.
Migrain yang berulang, semakin berat, atau mengganggu pekerjaan dan aktivitas sehari-hari perlu diperiksakan ke dokter. Pemeriksaan dapat membantu memastikan diagnosis, mengenali pemicu, dan menentukan pilihan pengobatan yang sesuai.
Sakit kepala yang muncul mendadak dengan intensitas sangat hebat, disertai kelemahan pada satu sisi tubuh, gangguan bicara, kebingungan, demam dengan kaku leher, atau gejala neurologis baru memerlukan pertolongan medis segera. Gejala tersebut tidak boleh langsung dianggap sebagai migrain.
Munro menekankan pentingnya mencari informasi dan tidak menganggap bahwa semua pilihan pengobatan telah habis ketika beberapa terapi sebelumnya belum berhasil. Perkembangan pemahaman tentang mekanisme migrain telah membuka berbagai pilihan penanganan.(far,ist/dya)




.jpg)