SURABAYA (Lentera) -Seorang kakek centenarian (berusia 100 tahun) asal China menarik perhatian publik dan viral di media sosial karena gaya hidupnya yang bertolak belakang dengan nasihat medis umum.
Kakek bernama Lu Shizeng ini rutin mengonsumsi minuman bersoda seperti Coca-Cola dan Sprite dalam jumlah banyak, serta mampu menghabiskan satu piring penuh kepiting dalam sekali makan.
Lu Shizeng tinggal di Desa Liangshan, Kota Wenling, wilayah pesisir Taizhou, Provinsi Zhejiang, Tiongkok Timur, diberitakan VnExpress, Minggu (18/10/2026).
Beberapa media lokal China menyebut usianya sudah mencapai 101 tahun. Namun, berdasarkan tanggal lahir yang dilaporkan situs berita Hong Kong HK01, yakni 7 September 1926, usianya genap 100 tahun menurut hitungan internasional.
Saat ini, ia memimpin keluarga besar yang terdiri dari empat generasi, mencakup dua putra dan seorang putri.
Pola makan unik
Di usianya yang menginjak satu abad, Lu selalu mengonsumsi nasi putih di setiap waktu makan. Ia lebih menyukai hidangan ikan, udang, dan kepiting ketimbang sayur-sayuran.
Asisten rumah tangga yang tinggal bersamanya, Wang, memberitahukan kepada media Wangchao, mengenai porsi makan Lu yang cukup besar.
Menurut Wang, Lu mampu menghabiskan hampir setengah mangkuk nasi dan satu piring penuh kepiting dalam sekali duduk.
Selain makanan gurih, Lu juga menyukai makanan manis seperti buah semangka, pir, dan jeruk mandarin.
Laporan media harian berbahasa Mandarin berbasis di Amerika Serikat, World Journal, menyebutkan bahwa keluarganya selalu menyetok karton-karton berisi Coca-Cola dan Sprite di rumah.
Lu menyukai minuman Sprite dingin, yang terkadang ditambahi beberapa tetes baijiu, minuman beralkohol khas Tiongkok dari biji-bijian.
Ia juga biasa mengonsumsi sekitar setengah cangkir minuman beralkohol tersebut saat makan.
Aktif berbelanja dan tampak lebih muda
Setiap lima hari sekali, Lu bepergian menggunakan becak untuk pergi ke pasar di pusat kota. Ia membeli stok ikan, udang, kepiting, daging babi, serta sayuran untuk kebutuhan hingga jadwal belanja berikutnya.
Para pedagang di pasar menyebut penampilan Lu masih terlihat sangat bugar dan tidak tampak seperti orang tua berusia di atas 80 tahun.
Hingga tahun lalu, Lu bahkan masih mengendarai sepeda roda tiganya sendiri ke pasar. Namun, setelah sempat terjatuh pada awal tahun ini yang membuat geraknya sedikit melambat, pihak keluarga melarangnya mengendarai sepeda maupun bekerja di ladang.
Terkait prinsip hidupnya, Lu memprioritaskan makanan berkualitas untuk menikmati hidup.
"Makan enak adalah yang utama," ujar Lu Shizeng kepada Wangchao, seraya menambahkan bahwa sebagian besar tabungan yang dimilikinya saat ini dialokasikan untuk membeli makanan.
Rutinitas harian dan kondisi kesehatan
Lu menerapkan pola tidur yang teratur. Ia makan malam pada pukul 17.00, mulai tidur sekitar pukul 20.00, dan terbangun pada pukul 04.00 pagi. Setelah bangun, ia melakukan peregangan di atas tempat tidur hingga benar-benar beranjak pada pukul 06.00.
Di siang hari, ia tidur siang selama sekitar 30 menit di atas kursi rotan. Ia juga rutin duduk di kursi pijat, yang dibelikan oleh menantu perempuannya sekitar enam atau tujuh tahun lalu, selama 15 menit sebanyak dua kali sehari.
Meski tidak pantang makanan dan hobi minum bersoda, Lu mengaku jarang terkena flu dan memiliki tekanan darah rendah.
"Beberapa orang tua mengalami stroke hanya karena sekali jatuh, tapi saya baik-baik saja," kata Lu kepada Wangchao.
"Saya mengingat hal-hal dari masa muda saya dengan sangat jelas," lanjutnya, mengutip dari Kompas.
Atas statusnya sebagai lansia berkarakter khusus, Lu menerima subsidi usia lanjut dari pemerintah setempat sebesar 800 yuan (sekitar Rp 1,85 juta) per bulan.
Faktor genetik vs gaya hidup
Fenomena gaya hidup lansia seperti Lu memicu perdebatan di kalangan warganet terkait faktor panjang umur.
"Beberapa orang terlahir seperti ini. Gaya hidup mereka hanya merupakan faktor kecil dalam umur panjang mereka," tulis salah satu warganet di kolom komentar media South China Morning Post.
Secara ilmiah, temuan ini sejalan dengan studi tahun 2011 terhadap 477 Yahudi Ashkenazi berusia 95 tahun ke atas yang dipimpin oleh Albert Einstein College of Medicine di New York.
Penelitian yang dilaporkan AFP tersebut menemukan bahwa kebiasaan makan dan gaya hidup kelompok lansia tersebut tidak lebih sehat dibandingkan populasi umum.
Penulis senior studi tersebut, Nir Barzilai, menjelaskan bahwa orang-orang tertentu kemungkinan memiliki gen umur panjang tambahan yang melindungi tubuh mereka dari dampak buruk gaya hidup tidak sehat. Meski demikian, ia menegaskan pentingnya menjaga pola makan.
"Kebiasaan gaya hidup seperti itu bukanlah pilihan yang baik bagi sebagian besar dari kita," tegas Nir Barzilai memberikan peringatan.
Secara medis, konsumsi minuman manis berlebihan tetap memiliki risiko tinggi bagi masyarakat umum.
Berdasarkan studi yang dipimpin oleh Tufts University dan diterbitkan di jurnal Nature Medicine pada Januari 2025, sekitar 2,2 juta kasus baru diabetes tipe 2 dan 1,2 juta kasus baru penyakit kardiovaskular secara global pada tahun 2020 dikaitkan langsung dengan konsumsi minuman bertakar gula tinggi (*)
Editor: Arifin BH





.jpg)