20 October 2026

Get In Touch

Bukan Sekadar Bermain Kartu, Yucca Card Ajarkan Inklusivitas dan Strategi Bisnis

Mahasiswa UC saat menunjukkan Yucca Card. (Amanah/Lentera)
Mahasiswa UC saat menunjukkan Yucca Card. (Amanah/Lentera)

SURABAYA (Lentera) – Perbedaan kemampuan dalam mengenali warna, tidak seharusnya menjadi penghalang untuk bermain bersama.

Berangkat dari gagasan tersebut, mahasiswa dan alumni Program Studi Visual Communication Design mengembangkan Yucca Card, permainan kartu yang mengadaptasi UNO dengan pendekatan inklusif bagi penyandang buta warna.

Yucca Card tidak hanya dirancang untuk menghadirkan pengalaman bermain yang lebih ramah bagi penyandang buta warna parsial maupun penuh. Permainan ini juga menggabungkan pengenalan kode warna internasional dan pembelajaran strategi dalam menghadapi tantangan, termasuk yang berkaitan dengan dunia bisnis.

Anggota tim desain Yucca Card sekaligus mahasiswa Visual Communication Design, Paulina Sirait mengatakan inovasi tersebut berangkat dari keinginan untuk membangun kesadaran masyarakat terhadap kondisi buta warna. Dengan demikian, orang dengan penglihatan warna normal dan penyandang buta warna tetap dapat menikmati permainan yang sama.

“Inovasinya mungkin aku mau ngembangin awareness juga kepada orang-orang yang normal vision, orang-orang yang normal dengan orang-orang yang buta warna gitu. Kita akhirnya bisa main bareng-bareng meskipun ada keterbatasan dari orang-orang setiap orang gitu,” ujar Paulina, Senin (19/10/2026).

Paulina mengungkapkan, riset awal Yucca Card berlangsung sekitar satu minggu, sedangkan proses pembuatannya memerlukan waktu sekitar tiga hingga empat minggu.

Ide awal permainan, muncul dari diskusi tim mengenai jenis permainan yang akan dikembangkan. Dari diskusi tersebut, muncul gagasan untuk mengadaptasi UNO dan menggabungkannya dengan konsep kesadaran terhadap buta warna.

“Kita pas itu kayak diskusi bareng gitu, mau bikin game apa? Nah, akhirnya aku bilang, ‘Ya udah, gimana kalau bikin Uno aja, Pak?’ Tapi Unonya digabungkan dengan color blind awareness ini,” ungkap Paulina.

Pada tahap awal, tim telah melakukan uji coba internal atau trial and error terhadap sekitar 10 orang. Menurut Paulina, respons para pemain cukup positif. Mereka menilai Yucca Card menarik sekaligus menantang karena permainan dapat berkembang menjadi situasi War of Cards berulang kali.

“Responnya mereka bilang kayak, ‘Wah, ini menarik banget.’ Menarik dan juga challenging, kayak ada tantangannya banyak gitu, kayak sampai kita war 10, 15, 20, sampai seterusnya,” katanya.

Namun, Paulina mengakui, pengujian khusus kepada penyandang buta warna belum dilakukan secara memadai. Tim baru mendapatkan kesempatan untuk melibatkan satu orang penyandang buta warna sehingga uji coba lanjutan masih dibutuhkan.

Terkait produksi dan pemasaran, Paulina mengatakan pihaknya belum menerima kepastian mengenai jumlah kartu yang akan diproduksi. Ia memperkirakan produksi dapat dilakukan pada tahun depan.

Bagi Paulina, harapan utama dari pengembangan Yucca Card adalah menghadirkan permainan yang membuat penyandang buta warna lebih nyaman saat bermain bersama orang lain. “Harapannya mungkin untuk teman-teman yang color blind itu bisa bermain juga tanpa ada rasa insecure,” ujarnya.

Sementara itu, dari sisi konsep, Yucca Card menggabungkan mekanisme permainan Wild UNO dan UNO Flip. Namun, tim pengembang menambahkan sejumlah fitur yang membedakannya dari permainan UNO pada umumnya, terutama karakter dengan kemampuan khusus atau skill aktif yang memengaruhi jalannya permainan.

Penggagas Yucca Card sekaligus alumni Visual Communication Design, Daigo Tanu Saputra, menjelaskan penambahan karakter dan kemampuan khusus menjadi salah satu pembeda utama permainan tersebut.

“Perbedaan yang paling spesifik, yang pertama, di UNO itu kan enggak ada namanya, enggak ada si karakter skill-nya. Nah, di tempat kita ini ada skill-skill-nya itu,” jelas Daigo.

Ia menjelaskan, dalam rancangan Yucca Card, terdapat empat karakter utama yang masing-masing memiliki kemampuan untuk membentuk strategi permainan.

Pertama, Yucca Shielder dengan kemampuan aktif Shining Shield. Karakter ini memiliki satu kali kemampuan memblokir efek kartu spesial lawan, seperti kartu yang memengaruhi jumlah kartu, penyegaran permainan, atau penghentian giliran.

Kedua, Yucca Fighter dengan kemampuan Passionate Strength. Skill ini membuat seluruh pemain mengambil enam kartu dan dapat ditumpuk dengan kemampuan War of Cards yang memberikan tambahan empat atau lima kartu.

Ketiga, Yucca Mage dengan kemampuan Oracle Destiny. Karakter ini memiliki satu kesempatan menggunakan mantra dalam satu permainan, dengan dua pilihan, yakni Healing Card untuk mengurangi tiga kartu atau membakar separuh kartu War of Cards yang memberikan tambahan empat atau lima kartu, serta Force Pass.

Keempat, Yucca Archer dengan kemampuan Spectrals Arrow. Karakter ini dapat mengunci target dan membuat dua pemain mengambil masing-masing empat kartu. Ketika terjadi War, kemampuan Stop-Block Arrow memungkinkan kartu War of Cards milik lawan kedua dilontarkan dan dibagi kepada dua pemain lawan yang dipilih Archer.

Keberadaan karakter dan kemampuan tersebut membuat pemain perlu mempertimbangkan langkah yang akan diambil, membaca situasi, serta memilih strategi yang tepat.

"Mekanisme ini menjadi bagian dari upaya kami untuk menggabungkan hiburan dengan pembelajaran pengambilan keputusan," jelasnya.

Selain karakter, aspek penting dalam Yucca Card adalah penggunaan ColorADD, sistem kode grafis yang membantu pengguna mengenali warna melalui simbol.

Menurut Daigo, permainan UNO sebelumnya telah mengenal penggunaan bentuk geometris sebagai penanda warna bagi pemain yang mengalami buta warna. Yucca Card mencoba menggunakan pendekatan ColorADD sebagai sistem identifikasi warna yang lebih terarah.

“Kalau di UNO yang versi lama itu kode-kode warna buat orang-orang buta warna itu cuma pakai segitiga, pakai persegi. Nah, di kita ini langsung pakai si ColorADD tersebut,” katanya.

Daigo menuturkan, rancangan kartu tersebut terutama ditujukan untuk membantu orang yang kesulitan membedakan warna merah dan hijau. Tim juga melakukan penyesuaian terhadap warna yang digunakan agar lebih mudah dikenali.

“Kalau yang ini lebih ke orang-orang buta warna yang enggak bisa membedakan warna merah sama hijau. Nah, di sini kan kita juga adjust warna-warnanya itu. Si warna merahnya tadi lebih ke kayak warna oranye, si warna hijaunya juga kita adjust, jadi mereka bisa lebih mengenali warnanya,” ungkapnya.

Ia mencontohkan, pengalaman saat kartu diperlihatkan kepada seseorang yang mengalami kesulitan melihat warna merah. Orang tersebut ternyata dapat mengenali warna pada kartu setelah melihat rancangan Yucca Card.

Tak hanya itu, Yucca Card juga membawa unsur pembelajaran kewirausahaan. Melalui mekanisme permainan dan kemampuan karakter, pemain diajak memahami pentingnya menyusun strategi ketika menghadapi persoalan dan menentukan langkah untuk mencapai tujuan.

Daigo mengatakan, pengembangan permainan ini sejalan dengan upaya menghadirkan pembelajaran yang dapat dilakukan sambil bermain.

“Terus yang kedua, kita juga belajar strategi, yang kalau kita di Yusi kan diajarin entrepreneurship, kayak gitu. Nah, di sini kita belajarnya sambil bermain,” ujarnya.

Ia menambahkan, situasi dalam permainan dapat menjadi gambaran sederhana untuk belajar menghadapi persoalan dalam bisnis maupun saat berinteraksi dengan orang lain.

“Jadi, kayak, oh, kalau kita dapat masalah di mungkin di bisnis kita, kita belajarnya dari sini sih, kayak pas lagi sama teman-teman gitu juga bisa belajar sedikit-sedikit,” lanjutnya.

Pengembangan Yucca Card juga menjadi bagian dari rencana tim untuk menghadirkan seri permainan lain di bawah konsep Yuka. Salah satu ide berikutnya adalah kartu pembelajaran matematika yang memuat operasi penjumlahan, pengurangan, dan perkalian, disertai target yang harus dicapai pemain.

“Yang paling dekat ini kita mau bikin kayak kartu buat belajar matematika gitu. Jadi, mirip seperti permainan UNO juga, tapi nanti di sana ada perkalian, pertambahan, pengurangan, dan nanti ada target-targetnya,” tutupnya.

 

Reporter: Amanah/Editor: Ais

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.