SURABAYA ( LENTERA ) - Kulit kering, kemerahan, bersisik, dan rasa gatal yang datang berulang bisa menjadi tanda eksim atau atopic dermatitis (AD). Kondisi peradangan kulit ini dapat berlangsung lama dan mengalami periode kambuh serta membaik.
Pada kulit dengan eksim, fungsi skin barrier terganggu sehingga kulit lebih mudah kehilangan air dan lebih sensitif terhadap iritan maupun alergen. Karena itu, perawatan sehari-hari bukan sekadar mencari cara menghilangkan gatal, tetapi juga menjaga lapisan pelindung kulit tetap berfungsi.
Pedoman American Academy of Dermatology (AAD) menempatkan pelembap sebagai salah satu terapi utama untuk atopic dermatitis. Perawatan juga mencakup kebiasaan mandi yang tepat, menghindari pemicu, serta penggunaan obat sesuai kondisi dan anjuran dokter.
Jangan Lewatkan Pelembap
Pelembap merupakan bagian dasar perawatan eksim. Penggunaannya membantu meningkatkan hidrasi kulit sekaligus mendukung fungsi skin barrier.
Penelitian yang melibatkan pasien atopic dermatitis di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya, dan diterbitkan dalam Journal of Cosmetic Dermatology pada 2025, membandingkan emollient plus dengan pelembap urea 10 persen pada pasien eksim ringan hingga sedang.
Penelitian tersebut menggunakan sejumlah parameter, termasuk tingkat keparahan eksim, rasa gatal, kualitas hidup, kehilangan air melalui kulit (transepidermal water loss), hidrasi dan pH kulit. Emollient plus yang digunakan mengandung sejumlah bahan, antara lain shea butter, minyak kanola, niacinamide dan bahan yang ditujukan untuk membantu menjaga keseimbangan mikrobioma kulit.
Namun, bukan berarti semua orang dengan eksim harus menggunakan produk dengan kandungan tertentu. Pilihan pelembap sebaiknya disesuaikan dengan kondisi kulit dan toleransi masing-masing.
AAD menyarankan penggunaan krim atau salep dibandingkan losion untuk membantu menjaga kelembapan. Produk tanpa pewangi (fragrance-free) juga lebih disarankan karena pewangi dapat memicu kambuh pada sebagian orang.
Waktu pemakaian juga penting. Setelah mandi, keringkan tubuh dengan menepuk kulit secara perlahan, bukan menggosoknya. Kemudian aplikasikan pelembap ketika kulit masih sedikit lembap untuk membantu mempertahankan air di permukaan kulit.
Kenali Pemicu
Eksim dapat kambuh setelah seseorang terpapar pemicu tertentu. Masalahnya, pemicu setiap orang tidak selalu sama.
National Eczema Association mencatat sejumlah pemicu yang umum, mulai dari pakaian berbahan kasar, keringat, perubahan suhu dan kelembapan, produk perawatan dengan pewangi, debu, tungau, serbuk sari, asap rokok hingga stres.
Karena itu, penting memperhatikan kapan dan setelah apa kulit mulai memburuk. Catatan sederhana mengenai makanan, aktivitas, produk yang digunakan, cuaca dan kondisi kulit dapat membantu menemukan pola.
Soal makanan, perlu kehati-hatian. Orang dengan atopic dermatitis memang memiliki risiko lebih tinggi mengalami alergi makanan, terutama pada kasus tertentu. Namun, makanan bukan penyebab utama eksim dan tidak semua penderita eksim harus menghindari telur, susu, kacang, makanan laut atau bahan makanan tertentu.
Diet eliminasi tanpa pengawasan dokter justru dapat menimbulkan masalah nutrisi dan tidak direkomendasikan sebagai cara rutin mengendalikan eksim. Jika ada dugaan alergi makanan, konsultasikan dengan dokter atau ahli alergi untuk memastikan pemicunya.
Jangan Menggaruk
Gatal merupakan salah satu gejala yang paling mengganggu pada eksim. Masalahnya, menggaruk dapat merusak permukaan kulit dan membuat siklus gatal-garuk semakin sulit dihentikan.
Ketika kulit digaruk berulang, lapisan pelindungnya dapat semakin rusak. Luka akibat garukan juga dapat meningkatkan risiko infeksi.
Salah satu cara yang dapat dicoba ketika gatal muncul adalah memberikan sensasi sejuk pada area tersebut. Kuku juga sebaiknya dijaga tetap pendek untuk mengurangi risiko luka jika tanpa sadar menggaruk saat tidur.
Perawatan dasar seperti pelembapan rutin tetap penting karena kulit yang kering dapat memperburuk rasa gatal.
Pada kondisi tertentu, dokter kulit dapat merekomendasikan wet wrap therapy. Teknik ini dilakukan dengan memberikan pelembap atau obat sesuai anjuran, kemudian menutup area tersebut menggunakan lapisan kain atau perban basah dan lapisan kering di atasnya. AAD menyebut terapi ini dapat membantu menghidrasi kulit sekaligus memberikan penghalang terhadap garukan, tetapi penggunaannya perlu disesuaikan dengan kondisi pasien.
Gunakan Obat Sesuai Kondisi Kulit
Pelembap penting, tetapi tidak selalu cukup untuk mengendalikan eksim yang sedang mengalami peradangan.
Jika ruam semakin luas, kemerahan bertambah berat, kulit pecah-pecah, terasa nyeri, mengeluarkan cairan, berkerak atau tidak membaik dengan perawatan dasar, sebaiknya periksakan ke dokter kulit.
Dokter dapat menentukan apakah diperlukan obat oles antiinflamasi atau terapi lain. Pedoman AAD saat ini mencantumkan sejumlah pilihan terapi topikal, termasuk kortikosteroid, penghambat kalsineurin, serta beberapa obat nonsteroid seperti penghambat PDE-4 dan JAK, dengan pemilihan bergantung pada kondisi pasien.
Penggunaan obat sebaiknya mengikuti dosis, lokasi pemakaian dan durasi yang diberikan dokter. Jangan mengganti atau menghentikan obat hanya karena kulit terlihat membaik tanpa berkonsultasi.
Mandi pun perlu diperhatikan. AAD merekomendasikan mandi atau berendam singkat menggunakan air hangat, bukan air panas, kemudian segera menggunakan pelembap ketika kulit masih lembap. Mandi selama sekitar 5–10 menit dapat membantu menghidrasi kulit tanpa membuatnya terlalu lama terpapar air.
Pada akhirnya, merawat eksim bukan soal mencari satu produk yang langsung menghilangkan semua gejala. Kuncinya adalah menjaga skin barrier, menggunakan pelembap secara konsisten, mengenali pemicu pribadi, mengurangi kebiasaan menggaruk dan mendapatkan terapi medis ketika peradangan tidak terkendali.
Eksim juga bisa kambuh meski seseorang sudah menjalankan perawatan dengan baik. Karena itu, tujuan perawatan bukan menjamin kulit tidak pernah kambuh, melainkan membantu mengurangi frekuensi dan keparahan flare serta menjaga kualitas hidup.(far,ist/dya)




.jpg)