SURABAYA (Lentera) -Yayasan Paliatif Surabaya pada tahun 2026 genap berusia 25 tahun. Ditandai seminar dengan topik, "Bersama Paliatif Menghadapi Kanker".
Ini adalah sebagai bukti, yayasan kanker berbakti kepada negeri.
Sekitar 1400 peserta penderita kanker, keluarga, pendamping dan masyarakat umum, ikut hadir pada acara yang digelar di Convex Ballroom lantai 4, Grand City, Jalan Walikota Mustajab, Surabaya. Mereka berasal dari berbagai daerah di Jatim. Seperti Malang, Probolinggo, Sidoarjo dan lainnya.
Acara berlangsung Sabtu (23/5/2026) menampilkan tiga pembicara dari Jakarta dan Surabaya, masing-masing Dr dr Maria Astheria Witjaksono, MPALLC (FU) dari Jakarta dan dr Gustina Konginan, SpKJ Subsp KL (K) serta dr Susie Ernawati Praptiningtias, PGD. Pall Med (Ecu).
Acara ini dipandu paliatif kondang, dr H Agus Ali Fauzi. Sedangkan dr Susie, memandu dialog dengan penderita kanker yang ditangani oleh Yayasan Paliatif Surabaya.
Penulis juga diberi kesempatan tampil di atas panggung. Untuk menceritakan pengalaman selama menderita kanker.
Saya lebih banyak memberikan motivasi, agar tidak perlu cemas dengan kanker.
Sebab, salah satu ciri kanker, semakin dipikirkan, justru semakin parah.
Soal mati, itu urusan Tuhan. Tidak perlu terlalu dipikirkan.
Yang penting adalah berikhtiar. Agar kanker bisa sembuh. Paling tidak, bisa hidup berdampingan dengan kanker. Misalnya jaga pola makan, rajin berolahraga, bersosialisasi diri dengan orang lain, dan lakukan aktivitas seperti biasa.
Pada seminar gratis ini, panitia memberikan bingkisan kepada peserta beragam hadiah.
"Sudah gratis dijamu pula," kata salah seorang peserta.
Yayasan paliatif adalah organisasi nirlaba yang berfokus pada perawatan paliatif yang pendekatan medis dan holistik untukmeningkatkan kualitas hidup pasien serta keluaganya yang menghadapi penyakit serius, seperti kanker stadium lanjut.
Yayasan Paliatif Surabaya merupakan cikal bakal paliatif di Indonesia, Selama ini, memberikan pendampingan pada pasien dan keluarganya. Juga membantu kebutuhan pasien yang kurang mampu.
Misalnya, bagi penderita yang merasa sakit nyeri akibat kankernya, obat disediakan secara cuma-cuma oleh yayasan yang donaturnya dari sejumlah pengusaha Surabaya itu (*)
Penulis: Nasaruddin Ismail, Wartawan Senior|Editor: Arifin BH




